Showing posts with label TOURISM. Show all posts
Showing posts with label TOURISM. Show all posts

Wednesday, July 13, 2011

Wisata Kawah Putih Ciwidey Bandung

KEHIDUPAN di kota telah membuat kami para mahasiswa merasa jenuh, ditambah lagi dengan tugas kuliah yang menumpuk. akhirnya kami memutuskan untuk refreshing ke suatu tempat. Singapore? Belanda? Jepang? Amerika?. Bukan itu yang kami pikirkan untuk memilih tempat liburan kali ini. kami lebih memilih tempat dengan biaya yang murah namun memiliki keindahan kelas dunia (berlebihan), tempat itu adalah Kawah Putih, Ciwidey, Kab. Bandung. 
Selama bertahun-tahun tinggal di kota Bandung, baru sekarang kami mengunjungi Kawah Putih ini, sehingga rasa penasaran menghantui kami. Perjalanan yang cukup jauh telah kami lewati, dan akhirnya tulisan "Welcome to Kawah Putih" -pun terlihat. HHahaha, setelah sekian lama akhirnya kami bertemu dengan yang namanya kawah putih. Amaizing!!, Amaizing!! itulah yang terucap dari bibir kami. Hal pertama yang kami rasakan adalah bau belerang yang cukup kuat, namun tidak mematahkan semangat kami untuk berfoto-foto di sekitar kawah putih yang eksotis itu. 
Pengalaman mengunjungi salah satu objek wisata yang disenangi masyarakat kota Bandung dan sekitarnya ini dapat kita ambil pelajaran bahwa "Alam adalah sahabat Kita". Jadi, alam harus tetap kita jaga keindahannya dan berhentilah untuk merusaknya. Go Green !!. (Rikas Driwari)***

Friday, July 1, 2011

Mojang and Jajaka (Sunda: Girl and Boy) Portray Lutung Kasarung

ANTARAJAWABARAT,com, 18/6 – Mojang and Jajaka (Sunda: Girl and Boy) West Java 2011 try to act portraying typical West Java musical drama as “Lutung Kasarung” held colossally in West Java Cultural Park (Taman Budaya Jawa Barat), 28 October-6 November 2011.
“Musical drama show Lutung Kasarung is one of pilot project in West Java to encourage mojang and jajaka entering real tourism industry,” said West Java vice governor H Dede Yusuf in Bandung, Saturday.
According to Dede, Lutung Kasarung show is one of penetration to youth to be active, not only in merely formal and ceremonial, but also in real world as artist and tourism industrialist.
“‘Moka-moka’ that never dance before would be prepared for the next four months, so they could play their role well,” said Dede Yusuf.
The show is supported by Yayasan Prima Ardian Tana and Saung Angklung Udjo Bandung, would be presented by 100 players consist of West Java Mojang and Jajaka member that has passed test and audition, dancing and casting.
The show would feature local culture, it is acting art colaboration, dancing and singing.
The show would be presented in September 2011 directed by Didi Petet, scenario Eddy D Iskandar and music arrangement Ismet Ruchimat from Samba Sunda.
Lutung Kasarung scenario is a pantun (traditional poetry), talked Sundanese legend about journey of Sanghyang Guruminda from Kahyangan dropped to Buana Panca Tengah (Earth) as a lutung (like monkey).
In his journey, lutung meet with Purbasari Ayuwangi Princess rejected by her evil sister, Purbararang.
Lutung Kasarung is a beast, eventually turn into a prince marry to Purbasari, and rule kingdom in Pasir Batang and Cupu Mandala Ayu kingdom.
“The story contains local philosophy with many morality values in the naration. Two moral values is negative effect from looking down someone as bad and forgiving as good,” said scenario writer Eddy D Iskandar.
At the meanwhile, Loetoeng Kasaroeng is the first film in Indonesia released in 1926 by NV Java Film Company directed by G Kruger and L Heuveldorp.
“After 90 years, it is hoped that Lutung Kasarung which is presented by recent concept could go international. I hope in 2012 Lutung Kasarung could make a show at X-Planet Singapore and other countries,” said Dede Yusuf added.***6***
(S033)



Saturday, June 25, 2011

Pasar Beringharjo Kota Yogyakarta


Pasar Beringharjo masih menjadi tujuan utama berbelanja buat mereka yang bertandang ke Yogyakarta. Meski di Jalan Malioboro juga terdapat banyak toko batik dan suvenir, tetapi mereka masih belum dapat menandingi pasar Beringharjo.
Pada akhir pekan, lorong-lorong penjual batik di lantai dasar pasar ini pasti akan penuh sesak. Anda harus siap berdesakan dengan penjaja batik yang menawarkan dagangannya  juga dengan dua arus pengunjung yang berbelanja di lorong-lorong sempit itu.

Di pasar ini, Anda bisa berbelanja mulai dari batik yang sudah jadi (baik dalam bentuk kain, cap maupun tulis). Beragam motif batik seperti Lasem, Madura, Bantul juga tersedia. Bahkan pakaian santai, daster, celana longgar, sampai gaun-gaun dan kemeja batik resmi juga dapat dicari.
Salah satu tempat yang bisa jadi pilihan adalah gerai batik Soenardi. Mereka punya dua los di lantai dasar pasar ini; satu di sebelah selatan pasar dan satu lagi di utara. Kedua los itu menyediakan koleksi yang berbeda. Kain-kain batik tulis dijual seharga Rp 110 ribu, sementara cap dijual mulai dari Rp 70 ribuan.

Jika Anda ingin mencari batik khas Bantul (yang selalu berwarna coklat tua dengan sisa kain dibiarkan putih), ada sebuah kios yang khusus berjualan itu. Sayangnya, kios ini tidak bernama atau bernomor. Untuk mendapatkan kios ini, masuklah dari pintu utama pasar di bagian depan lalu belok kiri di lorong kelima. Kios batik khas Bantul akan ada di sisi kiri Anda, dijaga oleh dua ibu tua yang berkebaya, kain dan sanggul.
Anda tinggal memilih dari beragam motif klasik seperti sidomukti, kawung, parang dan galaran. Per lembar kain batik dijual seharga Rp 65 ribu. Penjual batik khas Bantul dengan bangga mengatakan, mereka tidak menjual batik cap di kios mereka.

Di lantai tiga pasar, Anda akan menemukan tas-tas anyaman dari eceng gondok. Desain dan pewarnaannya pun cukup modern serta bergaya. Tas kecil yang bisa memuat dompet dan telepon genggam serta pernak-pernik lain sudah bisa Anda dapatkan dengan harga Rp 15 ribu.
Jika barang antik adalah minat Anda, berjalanlah ke bagian utara pasar. Koin uang kuno (benggol) juga dijual per paket mulai dari Rp 15 ribu, tergantung kelangkaannya. Di sana, pernik dapur seperti penggiling kopi pun bisa Anda dapatkan dengan harga murah. Selain itu, masih ada rempah-rempah kering, berbagai macam jamu, beragam aksesoris baju pengantin, sampai penganan seperti cendol dan sate gajih (lemak) yang harumnya menyebar di lorong-lorong pasar.
Pasar Beringharjo sebenarnya bukan hanya soal berbelanja, tapi juga manusia-manusia di dalamnya. Salah satu yang paling mengesankan (sekaligus membuat terenyuh) adalah para penjaja jasa gendong belanjaan atau mbok-mbok gendong yang berusia renta (60 tahun ke atas). Anda bisa mengenali mereka dari selendang yang tersampir di salah satu bahu. Mereka juga kadang akan mendekati Anda untuk menawarkan jasa menggendong atau memanggul dengan imbalan beberapa ribu rupiah saja. 

Sumber : Yahoo Travel

Wednesday, June 22, 2011

Jam Gadang Kebanggaan Kota Padang


Penjajahan Belanda di Indonesia meninggalkan jejaknya di Bukittinggi. Kenang-kenangan itu berupa Jam Gadang yang menjadi ciri khas kota. Jam ini dibangun pada 1926, sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada sekretaris kota. Hingga kini menara Jam Gadang masih menjadi bangunan tertinggi di Bukittinggi.
Jam Gadang dilengkapi lonceng besar di bagian atasnya. Di lonceng itu tertera pabrik pembuat jam: “Vortmann Relinghausen, I.W Germany”. Vortman adalah nama belakang pembuat jam ini, Benhard Vortmann. Recklinghausen adalah nama kota tempat mesin jam diproduksi di Jerman pada 1892.Karena uniknya mesin jam ini, tidak ada montir yang bisa memperbaiki. “Jadi kalau rusak atau macet, kami perbaiki sendiri,” kata Yusrizal, satu dari empat petugas penjaga jam.Para penjaga tak pernah belajar memperbaiki mesin jam secara formal. Pengetahuan teknis mengenai jam ini diajarkan secara turun-temurun dan terbukti berhasil karena kerusakan kecil pada jam selalu berhasil diperbaiki oleh mereka.
“Kecuali saat gempa tahun 2007. Bandul jam sempat patah dan harus diganti,” kata Andre, petugas jaga yang lain. Gempa di Padang tahun 2010 juga membuat dinding menara retak, namun tak merusak mesin jam.
Andre dan Yusrizal sedang bertugas jaga siang, bergantian dengan dua orang petugas yang akan berjaga pada malam hari. Empat orang itulah yang melakukan seluruh pemeliharaan. Mereka bertugas merawat jam, menjaga keamanan, hingga menyapu lantai. Kecuali telah mendapatkan izin, pengunjung dilarang memasuki bagian dalam menara.

Bagian dalam menara terdiri dari beberapa tingkat. Tingkat paling atas adalah tempat penyimpanan lonceng. Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah. Menaiki tangga kecil ke atas cukup menguras tenaga. Tetapi perjuangan menaiki anak tangga itu tentunya. Dari atas menara, tampaklah kota yang dikeliligi tiga gunung: Singgalang, Merapi dan Sago.

Jam Gadang menjadi pusat penanda kota Bukittinggi. Acara-acara kota biasanya diselenggarakan di lapangan dekat menara ini. Salah satunya sebagai titik dimulainya etape ke-4 Tour de Singkarak pada 9 Juni 2011.Tempat ini juga menjadi ruang interaksi favorit warga. Pada hari kerja pun lapangan di sekitar Jam Gadang tampak ramai. Anak-anak berlarian dan bermain dengan gelembung sabun, sementara orangtua mereka duduk-duduk di keteduhan. Sebuah ruang publik gratis yang seharusnya ada di setiap kota di Indonesia.

Sumber : Yahoo Travel

Monday, June 13, 2011

Wisata Kawah Gunung Galunggung


PENGUNJUNG tempat wisata alam selama musim lebaran ini menukik tajam. Di gunung Galunggung, umpamanya, dikabarkan jumlah pengunjung melorot dibanding tahun lalu. Usut punya usut, isu kawah retak jadi biangnya.
Pedagang makanan dan suvenir mengeluh, penghasilan mereka terkena imbas. Sudah tentu pundi-pundi Pemkab Kabupaten Tasikmalaya turut surut. Diduga kuat, menurunnya wisatawan ke Gunung Galunggung, lantaran isu kawah retak itu. Paling tidak, itulah hasil penelusuran wartawan.
Informasi tentang retaknya kawah, ternyata sama sekali tidak benar. Kondisi gunung Galunggung baik-baik saja. Dampak gempa tempo lalu tidak merusak fasilitas vital tempat wisata yang sudah dikenal sejak kakek buyut itu.
Sayang, kabar burung tentang kawah retak, sama sekali tidak diantisipasi dengan tanggap dan cepat. Akhirnya, kabar itu merebak dan menyurutkan niat orang yang -- bisa jadi -- sudah mempersiapkan jauh-jauh hari.
Jangankan merespon peristiwa tak terduga, seperti gempa tempo lalu. Hari-hari biasa pun, upaya promosi wisata masih lemah. Kondisinya semakin diperparah dengan pemeliharaan fasilitas yang setengah hati. Lengkaplah sudah, ruang-ruang yang membuat geliat wisata yang dikelola pemerintah jalan di tempat. Digarap seadanya, tanpa polesan. Kalah langkah oleh pengelola swasta yang mendesain suasana pantai di tengah kota.
Waterboom di Kota Tasikmalaya, tempo lalu diserbu pengunjung, meskipun belum sebulan diresmikan. Kreativitas pengelola, ide-ide segar menjadi kekuatan tak terabaikan di sektor hiburan dan dunia kontemporer lain. Bila menganggap remeh perkara ini, bersiap-siaplah gulung tikar. Informasi bisa menyesatkan banyak orang. Isu bisa jadi benar, bisa pula cuma isapan jempol yang dihembuskan.
Tampaknya, pengelolaan wisata di Priangan Timur, harus mulai mencermati kekuatan informasi yang selama ini terkesan digarap tidak serius. Tempat wisata yang terkenal eksotik, Pangandaran pun dikabarkan surut pengunjung. Lagi-lagi, isu gempa menjadi biangnya. Isu tsunami, menggelinding ke segala penjuru angin, tanpa bisa dibendung. Pemda perlu belajar banyak dari pengelola wisata swasta. Dikelola segelintir orang, namun mampu menyedot perhatian, hasilnya maksimal. Promosi pun tidak cukup dengan memasang iklan di media, namun perlu diperkuat dengan sosialisasi program yang terkonsep dengan matang.
Apakah perlu, menyerahkan pengelolaan wisata sepenuhnya kepada pihak swasta?